Kamis, 07 Desember 2017

Emisi Berdampak Pada Peningkatan Frekuensi Kejadian Bencana di Dunia !


Dengan bencana alam seperti badai, banjir dan dampak-dampak lain akibat perubahan yang semakin merusak, semakin mendesak untuk setiap negara meningkatkan target pengurangan emisi, bila mereka ingin pemanasan global tetap dalam ambang batas aman, kata para pakar menjelang pertemuan iklim PBB yang dimulai Senin 

Sekitar 163 negara telah menyerahkan rancangan bagaimana kontribusi mereka untuk memenuhi tujuan perjanjian iklim Paris yang membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celsius di atas level sebelum masa industri.

Namun apabila semua rancangan itu disatukan kemungkinan akan menyebabkan kenaikan suhu sebanyak 3 derajat pada abad ini, menurut PBB.

Nicholas Nuttal, Juru Bicara dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim mengatakan rencana-rencana nasional yang diajukan sebelum pertemuan Paris "sudah diketahui tidak bisa memenuhi tujuan-tujuan jangka panjang Kesepakatan Paris."

Tahun ini telah terjadi banyak kondisi cuaca ekstrim yang telah lama diperingatkan oleh para ahli, antara lain banjir besar di Asia, badai-badai yang merusak di Karibia dan Amerika Serikat, dan kebakaran lahan di California dan selatan Eropa.

Dalam upaya mengurangi emisi dan mencegah dampak yang lebih buruk, "kita berpacu dengan waktu," kata Angel Gurria, Sekretaris Jenderal OECD, minggu lalu.

"Kita harus menanamkan bahwa melindungi lindungan adalah tidak hanya bisnis yang bagus, tapi juga kebijakan yang bagus," kata Gurria.

Ketika 195 negara bertemu di Bonn, Jerman untuk pembicaraan iklim PBB, mereka kan membuat aturan untuk menerapkan kesepakatan Paris, termasuk beberapa isu yang kadang-kadang masih memicu perdebatan seperti misalnya bagaimana pengurangan emisi gas yang mengubah iklim, bisa dilaporkan dan diperiksa oleh negara lain.

Tetapi waktu tidak banyak. Emisi global gas pengubah iklim harus meningkat pada 2020 atau tiga tahun lagi dari sekarang untuk menjaga agar tingkat pemanasan berada di ambang batas aman, menurut World Resources Institute.

Camilla Born, penasihat senior untuk E3G, lembaga penelitian iklim bermarkas di London mengatakan: "Kita harus menunjukkan peningkatan ambisi pada 2020, bila ingin tetap pada jalur untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjang tersebut."

"Ini tugas yang lebih luas dan dalam dari yang pernah kita lihat sebelumnya. Ini bukan hanya pembicaraan mengenai menaikkan target-target. Hal ini tentang menyusun ekonomi kita secara berbeda.

"Kita bergerak ke arah sana, namun kita butuh bergerak lebih cepat," kata Born kepada Thomson Reuters Foundation. "Ini bukan kesepakatan yang sudah tuntas, tapi kita masih punya banyak bahan untuk mewujudkannya," kata dia.

Sumber pendanaan

Banyak negara berkembang berencana untuk membatasi emisi dan beradaptasi dengan perubahan iklim bergantung pada penerimaan dana yang cukup untuk menerapkannya.

Negara-negara yang makmur telah berjanji menggalang dana 100 miliar dolar setahun untuk pendanaan iklim pada 2020, untuk membantu negara berkembang mengatasi dampak dari perubahan iklim dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun negara-negara berkembang membutuhkan lebih dari 4 triliun dolar untuk menerapkan rencana mereka, menurut Least Developed Countries (LDC) Group yang mewakili 47 negara termiskin di dunia.

"Negara-negara LDC dan negara berkembang lainnya tidak bisa melakukan tindakan yang ambisius untuk menangani perubahan iklim atau untuk melindungi diri mereka dari dampak-dampak (perubahan iklim) kecuali seluruh negara memenuhi janji-janji yang telah mereka buat," kata Gebru Jember Endalew, ketua grup yang berasal dari Ethiopia.


"(Kami) menghadapi tantangan unik dan belum pernah terjadi sebelumnya yaitu membawa masyarakat keluar dari kemiskinan dan mencapai pembangunan berkelanjutan tanpa mengandalkan bahan bakar fosil," kata dia.

Grup ini mendorong pembicaraan Bonn untuk menghasilkan lebih banyak bantuan tunai untuk membiayai perubahan-perubahan yang diperlukan. Untuk menjalankan rencana aksi iklim saja, negara-negara yang paling tidak maju membutuhkan setidaknya 200 miliar untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang semakin memburuk, termasuk musim kering yang lebih keras dan banjir yang lebih parah, kata Endalew.

Banyak negara-negara paling miskin di Afrika, Asia, Karibia dan Pasifik telah menyaksikan kerusakan akibat banjir, badai, kekeringan dan naiknya permukaan air laut.

Dengan dampak-dampak tersebut yang mengikuti kenaikan suhu global sebanyak 1,2 derajat celsius, banyak negara-negara miskin dan organisasi-organisasi yang mewakili kelompok paling rentan di dunia, mendesak agar batas kenaikan suhu tidak hanya ditahan di bawah 2 derajat, tapi lebih ambisius lagi yaitu 1,5 derajat celcius.

Luar Biasa ! Para Peneliti di Inggris Mencoba Untuk Hasilkan Sapi "Beremisi Rendah"


Dalam kategori gas-gas rumah kaca, gas methan adalah yang gas yang paling berbahaya. Dibanding gas karbon dioksida, gas methan jauh lebih merusak lapisan ozon di atmosfir, dan sebagian besar gas itu dihasilkan oleh ternak. Para pakar sejak lama telah berusaha mengurangi produksi gas methan untuk mengurangi tingkat pemanasan bumi.

Sapi-sapi di peternakan di seluruh dunia menghasilkan daging yang dimakan oleh jutaan manusia; tapi sapi-sapi itu juga bertanggung jawab atas peningkatan suhu bumi. Ini disebabkan karena dalam satu bagian perut sapi itu, yang disebut rumen, proses pencernaannya menghasilkan gas methan, gas rumah kaca yang sangat kuat.

Richard Dewhurst, pakar pada Scotland’s Rural College, mengatakan, “Proses fermentasi dalam rumen itu penting bagi sapi, tapi masalahnya, proses itu juga menghasilkan gas methan.”

Karena itu, di sebuah laboratorium di Inggris, para pakar memberi makanan yang berbeda kepada sapi-sapi ternak untuk melihat makanan jenis apa yang menghasilkan paling sedikit gas methan.

Rainer Roehe, pakar lainnya pada Scotland Rural College, menjelaskan, “Kami punya enam tong makanan yang berisi makanan ternak yang berbeda. Kami berusaha mempelajari dampak makanan tertentu dalam kaitannya dengan produksi gas methan, dan juga tentang susunan genetika sapi-sapi yang hanya menghasilkan sedikit gas methan.”


Tapi yang ditemukan para pakar, bukan makanan apa yang menghasilkan gas methan terbanyak, tapi jenis bakteri yang terdapat dalam perut sapi itu, yang menentukan jumlah gas methan yang dihasilkan.

Penemuan ini mungkin kabar baik bagi peternak sapi, karena akan memungkinkan mereka menternakkan sapi-sapi yang tidak menghasilkan banyak gas methan.

Kata para pakar, diharapkan suatu hari petani akan bisa mengadakan pengetesan genetika untuk mencari sapi-sapi yang lebih bersih dan tidak menghasilkan banyak gas methan.

Sementara itu, kita bisa mengurangi produksi gas methan yang merusak lapisan ozon dengan makan lebih sedikit daging sapi.

sumber : www.voaindonesia.com

Pengertian Limbah B3




Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). 

Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Limbah adalah hal yang paling umum kita hasilkan sebagai makhuk hidup. Tak hanya pabrik dan kendaraan bermotor saja yang dapat menghasilkan limbah, tetapi kita sebagai makhluk hidup juga merupakan penghasil limbah yang sangat produktif. Limbah atau hasil akhir suatu proses ternyata tidak hanya terkelompokan dalam satu macam saja. Melainkan ada banyak jenis limbah yang telah dikalsifikasikan dan diatur oleh pemerintah, dimana salah satunya adalah limbah B3. Apa itu limbah b3 ? Mungkin banyak dari kita yang belum mengenal apa itu limbah B3, padahal tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari kita sudah menghasilkan limbah B3 tersebut.

Pemerintah telah memiliki bahasan tersendiri menganai limbah B3 ini. Dimana dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 telah didefinisikan apa itu limbah B3 atau limbah bahan berbahaya dan beracun. Limbah bahan berbahaya dan beracun yang disingkat dengan limbah B3 ini adalah limbah yang jika diperhatikan secara sifatnya, konsentrasinya, termasuk jumlahnya memiliki kecenderungan mencemari lingkungan sekitar, membahayan lingkungan disekitar kita hingga menghambat/merusak keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainya. 

Limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifatnya dan atau konsetrasinya maupun jumlahnya, secara langsung maupun tidak langsung hidup manusia dan makluk lain (PP No. 188 Tahun 1999 dan PP No. 85 Tahun 19999 Tentang Pengelolaan Limbah B3).

Bahan berbahaya dan beracun mungkin dapat kita jumpai di rumah kita, seperti buangan produk yang tidak memenuhi standar yang aman bagi lingkungan atau sisa bahan maupun tumpahan bahan kimia yang kadaluarsa. Pada umumnya, produk yang mengandung B3 bersifat mudah meledak dan terbakar, reaktif, beracun, menyebabkan infeksi dan menyebabkan karat (korosif).

Sumber Hukum :

Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun.
Peraturan Pemerintah RI No. 85 Tahun 1999 Tentang : Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun.

Sumber : http://artonang.blogspot.co.id












Selasa, 05 Desember 2017

Pabrik Pengolahan Limbah Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar


TEL AVIV, ISRAEL — Perusahaan-perusahaan energi terus berupaya mencari dan menemukan sumber bahan bakar (BB) alternatif yang lebih hemat dan lebih bersih. Salah satunya adalah sampah.

Pihak berwenang di Tel Aviv, Israel mengatakan pembangkit energi tenaga sampah baru mereka diperkirakan akan mampu memproduksi 500 ton BB sehari.

Pusat Daur Ulang Hiriya di Tel Aviv terdiri dari tiga unit yang memproses semua sampah dari kota berpenduduk 1,5 juta orang itu.

Setiap hari, mesin-mesin raksasa di pembangkit bernilai 110 juta dolar ini memroses sekitar 1.500 ton sampah menjadi Refuse Derived Fuel atau RDF. Logam akan didaur ulang. Sampah organik, terutama sisa makanan, diubah menjadi pupuk, sementara sampah yang bisa dibakar akan diubah menjadi RDF, yang membantu memasok energi ke pabrik semen utama di Israel.

Hasil akhir produk dari fasilitas pemroses ini kering dan aman, seperti yang kata Wakil Walikota Tel Aviv Doron Saphir.

“Ada plastik, kertas, karton, tekstil, semua bahan yang dianggap RDF, merupakan energi ramah lingkungan untuk pabrik semen, menggantikan kokas yang menimbulkan polusi,” kata Saphir.

Setiap tahun, pembangkit energi tenaga sampah ini diperkirakan menghasilkan 160.000 ton RDF, atau sekitar 20 persen kebutuhan listrik pabrik semen itu.

Sumber : www.voaindonesia.com

Luar Biasa ! Inisiatif Daur Ulang Sampah Warga Desa WukirsariI, Bantul

Ilustrasi Daur Ulang Sampah  


Perlahan tapi pasti, kesadaran tentang perlunya melindungi dan melestarikan lingkungan alam mulai meningkat di seluruh dunia. Inisiatif akar rumput kini mendapat sorotan dan mereka yang terlibat mengatakan senang menjadi bagian dari gerakan yang menguntungkan itu.

Sebagaimana di banyak tempat lainnya, kanal di desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, di Bantul, DIY, ini tadinya penuh botol dan tas plastik, sisa makanan dan sampah lainnya.

Kini ikan kembali bisa berenang di air yang bersih, anak-anak sekolah belajar mengubah botol dan kaleng yang dibuang menjadi mainan, sementara sampah yang dikumpulkan dari kanal diubah menjadi kompos yang digunakan di taman-taman desa.

Hanya satu orang yang mendorong perubahan luar biasa itu.

“Taman sayur yang digagas Ari Ahmad dan teman-teman itu menguntungkan kita. Jadi kita bisa bekerjasama. Daun-daun yang sudah menumpuk diambil dan dijadikan kompos. Ini membuat kita semakin bekerjasama untuk mengelola lingkungan menjadi lebih sehat dan lebih bersih lagi,” kata Triyana, warga desa Wukirsari.

Ari Ahmad Zulfahmi yang memimpin sekelompok anak muda untuk membersihkan kanal ini, membujuk warga untuk memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dan menunjukkan bagaimana cara membuat kompos.

Gagasan ini segera menarik dukungan luas dari badan urusan lingkungan hidup di Indonesia.


“Kami sangat setuju karena salah satu Tupoksi (Tugas Pokok Fungsi.red) kami adalah memotivasi masyarakat untuk ikut berperan dalam memelihara lingkungan, baik untuk pengendalian pencemaran atau memperbaiki kerusakan,” kata Jito, pegawai Badan Pengendalian Lingkungan.

Gagasan mengurangi sampah plastik, yang merupakan masalah sangat besar di Indonesia, kadang-kadang menggunakan pendekatan yang tidak terduga, seperti dengan menyajikan minuman dan es krim pada cangkir dan kerucut es krim yang bisa dimakan.

“Setelah dilihat lebih teliti ternyata khan sampah yang paling banyak itu sampah plastik, saya kemudian melakukan sedikit riset dan baru tahu kalau ternyata sampah plastik itu terdegradasinya lama sekali, bisa sampai ribuan tahun, dan pencemarannya luar biasa,” tukas David Christian salah seorang pendiri "Evoware".

Cangkir dan kerucut es krim yang terbuat dari rumput laut ini memiliki konsistensi seperti jeli dan disajikan dalam teh rasa peppermit dan teh hijau. Dibuat dengan tangan, harganya lebih mahal dibanding plastik dan masih perlu bungkus plastik. Tetapi para pelanggan mengatakan mereka membantu mengatasi ledakan limbah plastik di Indonesia.

“Saya harap supaya ke depannya lebih bagus, jangan pakai plastik barangkali yaa.. Pakai ini saja cukup, gak perlu pakai plastik lagi,” tutur Helda Vince Lantang, seorang pelanggan.

Evoware mengatakan pihaknya akan segera menawarkan produk-produk berbahan dasar rumput laut seperti tas teh dan kopi yang bisa didaur ulang.

Sumber : www.voaindonesia.com

Rabu, 29 November 2017

Waspada ! Sampah Medis Berserakan di Pinggir Sungai



Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menyelidiki pelaku yang membuang sampah medis di pinggir sungai di Desa Bilaporah. Pelaku dianggap melanggar aturan karena sampah medis tak boleh dibuang sembarangan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan Ishak Sudibyo menerjunkan tim menyelidiki lokasi. Petugas melihat langsung sampah medis yang dibuang di sungai.

"Sampah medis atau yang disebut B3 (bahan berbahaya dan beracun) itu ada penanganan khusus. Tak bisa dibuang sembarangan," kata Ishak di Bangkalan, Rabu 18 Oktober 2017.

Beberapa hari lalu, lanjut Ishak, ia mendapat laporan sampah medis dibuang sembarangan di sungai Desa Bilaporah. Keberadaan sampah ditemukan pertama kali oleh anggota Polres Bangkalan Ipda Rubiono.

Sampah berupa bekas obat-obatan dan peralayan medis. Diduga sampah dari sebuah klinik kesehatan swasta.

"Saya tidak mengetahui pasti siapa yang membuangnya. Saya menemukan saat bertugas melakukan pengamanan," ujar Rubianto.

Menurut Rubianto, limbah tersebut berbahaya. Dari hasil pelatihan soal limbah medis, ia mengetahui penanganan terhadap sampah B3 harus khusus.

Senin, 27 November 2017

Cara Unik Salah Satu Kota di Indonesia untuk Atasi Masalah Sampah


Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar telah berhasil menekan volume timbunan sampah tahun ini. Awal tahun 2017, rata-rata volume sampah per hari ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekitar 1.200 ton. Jumlah ini menurun 50 ton per hari dibandingkan tahun 2016 lalu.

Wali Kota Makassar M Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mengatakan, penekanan volume sampah di Makassar berkat kesadaran masyarakat dengan mengedepankan kebersihan lingkungan. Makassar juga memiliki ratusan Bank Sampah dengan sistem daur ulang yang mendukung program kebersihan dalam pemerintahannya.

"Makassar telah memiliki lebih dari 600-an unit Bank Sampah yang tersebar di hampir semua kecamatan di Kota Makassar," kata Ramdhan dalam siaran pers, Senin (17/4/2017).


Riset Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan, jumlah timbunan sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton/hari atau setara 64 juta ton/tahun. Mirisnya, Indonesia justru berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Tiongkok yang mencapai 262,9 juta ton.

"Berangkat dari masalah ini, maka Pemerintah Kota Makassar terus melakukan kampanye tentang pengelolaan sampah menjadi barang-barang yang bermanfaat seperti kerajinan tangan yang juga akan menghasilkan nilai ekonomis bagi pendapatan masyarakat," jelas Wali Kota yang akrab disapa Danny itu.

Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan sistem menabung dan menukar langsung sampah sortiran yang sebelumnya sudah disortir di Bank sampah Pusat di Jalan Toddopuli Raya untuk dibawa ke Bank Sampah Unit dan ditukar dengan beras atau kebutuhan pokok lainnya.

"Bank Sampah Unit ini adalah tempat penukaran sampah yang bisa langsung ditukar dengan barang kebutuhan pokok atau uang. Sudah ada Bank sampah Unit di balai kota dan rata-rata pegawai di balai kota yang sudah menjadi nasabah mencapai sekitar 1.300 orang," ucap Danny.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menjadikan Makassar sebagai proyek percontohan dalam pengelolaan sampah Karena mampu menggalakkan masyarakat dalam membentuk Bank Sampah yang menghasilkan nilai ekonomis.

Sumber : Sindonews.com

Emisi Berdampak Pada Peningkatan Frekuensi Kejadian Bencana di Dunia !

Dengan bencana alam seperti badai, banjir dan dampak-dampak lain akibat perubahan yang semakin merusak, semakin mendesak untuk setiap n...